Pendidikan

Menyongsong Implementasi Kurikulum Merdeka

Dunia pendidikan akan selalu mengalami dinamika seiring dengan berjalannya waktu mengikuti perkembangan zaman. Sebagai seorang pendidik yang menjadi ujung tombak perjalanan membangun sebuah peradaban, tentu harus selalu siap menerima segala macam komponen pendidikan yang turut berkembang. Seorang pendidik harus terus berinovasi untuk memberikan yang terbaik dalam berbagi bermacam ilmu pengetahuan kepada para peserta didik. Hal ini dapat dimulai dari bagaimana cara penyampaian materi ketika kegiatan belajar mengajar (KBM) berlangsung. Sepanjang sejarah pendidikan, hal yang selalu ada dalam setiap pertemuan di kelas adalah metode ceramah yang membuat para peserta didik hanya “dijejali” dengan berbagai macam materi tanpa dilibatkan langsung dalam materi pembelajaran tersebut.

Berangkat dari hal tersebut, SMP Negeri 1 Purbalingga sebagai sekolah yang menjadi tolok ukur sekaligus barometer sekolah-sekolah di Kabupaten Purbalingga, berupaya untuk menjadi pioner yang akan menerapkan kurikulum Merdeka Belajar secara mandiri agar para peserta didik tidak selalu menjadi penyimak, tapi juga harus bisa mengeksplorasi pengalaman belajarnya di dalam kelas. Peserta didik harus menjadi objek utama dan poros dalam setiap kegiatan belajar. Implementasi kurikulum merdeka belajar ini tentunya harus diterapkan secara bertahap karena baik peserta didik maupun pendidik harus sama-sama saling menyesuaikan terutama kesiapan pendidik dalam memberikan materi yang berbobot untuk peserta didik.

Pada tanggal 11 s.d 12 Maret 2022, SMP Negeri 1 Purbalingga mendapatkan kesempatan untuk melakukan In House Training (IHT) yang bertujuan untuk melakukan penerapan kurikulum Merdeka Belajar. Sebagai sekolah pertama yang akan menerapkan kurikulum tersebut, tentunya butuh segala macam persiapan yang matang agar hasilnya dapat maksimal. Sebagai bagian dari upaya pemulihan pembelajaran, Kurikulum Merdeka (yang sebelumnya disebut sebagai kurikulum prototipe) dikembangkan sebagai kerangka kurikulum yang lebih fleksibel, sekaligus berfokus pada materi esensial, pengembangan karakter, dan kompetensi peserta didik. Karakteristik utama dari kurikulum ini yang mendukung pemulihan pembelajaran adalah, pembelajaran berbasis projek untuk pengembangan soft skills dan karakter sesuai profil pelajar Pancasila yang berfokus pada materi esensial sehingga ada waktu cukup untuk pembelajaran yang mendalam bagi kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi serta fleksibilitas bagi guru untuk melakukan pembelajaran yang terdiferensiasi sesuai dengan kemampuan peserta didik dan melakukan penyesuaian dengan konteks dan muatan lokal.

Dalam kegiatan IHT ini ada beberapa narasumber inspiratif dengan berbagai macam track record dalam dunia kependidikan. Narasumber dalam IHT yang berlangsung di SMP N 1 Purbalingga adalah, Fajriyatun, S.Pd dan  Dr. Mulida, S.Pd.,M.Pd dengan didahului sambutan yang diberikan oleh Bapak Tri Gunawan S, S.H., M,H beliau memberikan berbagai macam pesan dan motivasi untuk para pendidik.

“Ada beberapa hal yang memang harus dipaksakan.”

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Bapak Tri Gunawan S, S.H., M,H pada kegiatan IHT tersebut. ‘Dipaksakan’ tersebut dimaksudkan supaya kita sebagai generasi yang akan membawa Indonesia bersaing dengan negara lain untuk terus bergerak membawa perubahan yang lebih baik. Perubahan tersebut dapat didasari oleh beberapa hal yang harus dipulihkan dalam berbagai bidang. Salah satunya yaitu dalam bidang pendidikan. Untuk mencetak generasi emas yang semakin gemilang, melakukan pemulihan tersebut memang harus dipaksakan tentunya dengan pertimbangan yang matang dan berdampak baik.

            Upaya dalam pemulihan pembelajaran dapat dilakukan dengan mengimplementasikan kurikulum atau komponen pembelajaran yang menjadikan peserta didik dapat mengembangkan soft skill dan karakter dengan baik. Ibu Fajriyatun yang merupakan salah satu guru inspiratif menyampaikan bahwa, kreativitas seorang pendidik sangat memengaruhi hasil belajar peserta didik. Selain itu, hal tersebut juga dapat memancing kemampuan peserta didik dalam pembelajaran. Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk menunjang terciptanya pembelajaran yang memberikan kebermanfaatan bagi peserta didik, salah satunya yaitu dengan menerapkan Kurikulum Merdeka. Kurikulum Merdeka bersifat fleksibel yang menjadikan guru untuk melakukan kegiatan pembelajaran yang terdiferensiasi sesuai dengan kemampuan peserta didik dan melakukan penyesuaian dengan konteks dan muatan lokal. Ibu Fajriyatun juga menyampaikan bahwa dalam implementasi Kurikulum Merdeka harus tetap disisipkan materi literasi untuk mengasah stimulus peserta didik. Selain itu, pemberian materi yang mengasyikan juga akan membuat para peserta didik menjadi nyaman dalam belajar dan tidak terlalu kaku dalam menerima materi.

            Kegiatan IHT yang dilakukan selama dua hari tersebut juga dihadiri oleh Ibu Mulida yang juga tidak kalah inovatif dalam menyuplai berbagai macam metode pembelajaran. Beliau menyampaikan mengenai konsep pembelajaran yang terintregasi dengan berbagai macam materi dalam pembelajaran dan penilaian. Beliau menyampaikan bahwa sebagai pendidik kita harus terus bergerak menghadapi perubahan yang ada, bukan hanya jalan di tempat. Kalimat tersebut sangat menginspirasi untuk terus bergerak dalam menyongsong pembelajaran dengan berbasis Kurikulum Merdeka. Implementasi Kurikulum Merdeka selain fokus pada materi esensial, juga memberikan pembelajaran kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi. Ibu Mulida juga menyampaikan bahwa tujuan dari materi yang disampaikan yaitu untuk menguatkan pemahaman tenang konsep literasi, penerapan pembelajaran, dan penerapan penilaian. Mengapa perlu penguatan literasi dalam pembelajaran Kurikulum Merdeka? Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah memfokuskan penanaman karakter sesuai dengan profil pelajar Pancasila yang memahami konsep literasi dan numerasi.

           Sudah seharusnya pendidik terus berinovasi dan berpikir kreatif tentang materi pembelajaran yang diberikan untuk peserta didik. Dengan adanya kurikulum Merdeka ini, peserta didik memiliki kesempatan untuk mempelajari secara mendalam tema-tema atau isu penting seperti gaya hidup berkelanjutan, toleransi, kesehatan mental, budaya, wirausaha, teknologi, dan kehidupan berdemokrasi. Kurikulum ini melatih peserta didik untuk melakukan aksi nyata sebagai respon terhadap isu atau materi yang diajarkan dalam perkembangan dan tahapan belajar mereka. Mengutip dari pesan yang biasa Ibu Yohana Kristianti terapkan dalam KBM, bahwa “Kita bukan lagi artisnya….” artinya kita seharusnya tidak menjadi pusat perhatian di kelas, tapi peserta didik yang seharusnya menjadi artis dalam panggung mereka sendiri. Mari bergerak untuk mencetak generasi emas dan jangan pernah lelah untuk terus berinovasi!