Pendidikan

Wujud Aktualisasi Diri dengan Project P5

Materi P5 termasuk dalam kegiatan kokurikuler berbasis projek yang dirancang untuk menguatkan upaya pencapaian kompetensi dan karakter siswa dalam Kurikulum Merdeka. Mengutip laman Kemendikbud, Kurikulum Merdeka ini hadir untuk membantu guru menjalankan perannya secara maksimal. Salah satu pembahasan dalam Kurikulum Merdeka adalah Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Projek P5 ini memiliki 6 dimensi yaitu, (1) beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, (2) mandiri, (3) bernalar kritis, (4) berkebhinekaan global, (5) bergotong royong, dan (6) kreatif. Selama projek berlangsung, satuan pendidikan bertugas melaporkan hasil, mengevaluasi, serta menindaklanjuti pelaksanaan P5 dalam kegiatan belajar mengajar. Kegiatan P5 ini adalah kegiatan yang melibatkan wali kelas dan guru mapel untuk keberlangsungan dan kelancaran kegiatan terutama pada saat kegiatan refleksi yang dilaksanakan pada akhir kegiatan.

Dalam hal ini, SMP Negeri 1 Purbalingga telah melaksanakan kegiatan pekan P5 yang dimulai pada tanggal 12 September 2022 dengan tema besar “Bangunlah Jiwa dan Raganya”. Topik yang diangkat adalah “Pelajar Anti Perundungan dan Pornografi”. Topik yang diangkat didasarkan pada permasalahan yang mulai marak terjadi di kalangan masyarakat. Serangkaian kegiatan P5 Spenzaga ini diawali dengan kegiatan talkshow sebagai pembuka seluruh rangkaian kegiatandari narasumber Ibu Dyah Astorini Wulandari, S.Psi.,M.Si.,Psi yang aktif sebagai dosen fakultas psikologi Universitas Muhamadiyah Purwokerto (UMP) dan konsultan psikolog di biro psikologi UMP yang mengangkat tema pornografi. Narsumber kedua adalah Ibu Yuniati Adiningsih, S.Sos. Selaku Kabid P3A yang mengangkat tema perundungan dan didampingi oleh Awanda selaku perwakilan dari forum anak Purbalingga. Narasumber terakhir adalah Ibu AIPTU Hesti Nugrahaeni, S.H selaku Kanit PPA SAT Polres Purbalingga. Setelah kegiatan talkshow berlangsung para peserta didik melakukan kegiatan refleksi dipandu oleh guru mapel.

Kegiatan selanjutnya adalah pembuatan poster pop up yang dilakukan secara berkelompok dengan tema perundungan. Kegiatan ini adalah kegiatan yang melatih kerjasama kelompok sesuai dengan dimensi Pelajar Pancasila yaitu Bernalar Kritis, Bergotong Royong, dan Kreatif. Peserta didik saling menuangkan ide dalam pop up yang nantinya akan dipamerkan dalam pameran mini pop up. Kegiatan ini juga sekaligus melatih keterampilan masing-masing anggota kelompok dalam membagi waktu agar pop up yang ditampilkan maksimal dan selesai di waktu yang tepat. Pameran dilaksanakan dengan teknis penilaian teman sebaya yang dilakukan antar kelas dengan sistem kunjung karya. Refleksi dilakukan dengan adanya “Kotak Kebahagiaan dan Rasa Syukurku” sesuai dengan dimensi Pelajar Pancasila Beriman, Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Berakhlak Mulia yaitu peserta didik diminta untuk menuliskan kesan dan pesan selama pameran berlangsung yang dimasukan ke dalam stoples masing-masing kelas. Sebelum melakukan kegiatan pembuatan pop up tersebut, para peserta didik melakukan kegiatan “Senam Ceria” yang dipimpin oleh perwakilan masing-masing kelas.

Sebagai penutup kegiatan pekan P5 minggu pertama, para peserta didik melakukan kegiatan flashmob secara serempak dengan jingle bertajuk Pelajar Pancasila Anti Perundungan dan Pornografi yang diciptakan oleh Bu Difa Ratih Puruhita, dan dirilis pada saat pekan P5 untuk memeriahkan rangkaian kegiatan. Para peserta didik sangat antusias dalam mengikuti gerakan flashmob yang diiringi jingle tersebut. Tidak hanya itu, kegiatan flashmob ini juga dilanjutkan dengan pembuatan flashmob mandiri yang dibuat secara berkelompok untuk ditampilkan. Pada kegiatan flashmob ini, para peserta didik menampilkan flashmob yang sudah dicontohkan dan flashmob hasil karya kelompok masing-masing sebagai puncak pekan P5 minggu pertama. Pada kegiatan flashmob sangat terlihat bahwa para peserta didik betul-betul tekun mengikuti kegiatan dengan baik. Mereka saling merangkul, bergandengan tangan, saling melempar senyuman, dan lebih mengenal satu sama lain. Tidak ada batasan yang dibuat, semua saling membaur menjadi satu untuk kesuksesan dan terlaksananya project P5.

Dengan adanya project ini, diharapkan para peserta didik tidak hanya terasah dari segi akademik, tetapi juga terbangun dari segi sikap, empati, simpati yang mencakup dimensi project P5. Tentunya kebiasan baik semacam ini harus betul-betul dimiliki oleh para pelajar Spenzaga untuk keberlangsungan sekolah yang bebas perundungan dan pornografi, serta selalu berprestasi di bidang akademik seperti jargon yang diusung dalam project P5 Spenzaga “Be The One, All For One”  dengan filosofi makna semua bergabung menjadi satu tanpa membeda-bedakan satu sama lain. Sekalipun terdapat banyak perbedaan, tetapi semua dapat melebur menjadi satu.