Pendidikan

Kolase Spenzaga dalam Pawai Kebangsaan

Minggu, 21 Agustus 2022

Setelah mengalami vakum selama hampir 2 tahun belakangan, Pemerintah Kabupaten Purbalingga kembali mengadakan pawai kebangsaan dalam rangka memeriahkan HUT RI ke-77. Pawai ini diikuti oleh OPD yang ada di lingkungan pemerintahan, organisasi kemasyarakatan, serta sekolah-sekolah yang ada di Kabupaten Purbalingga. Pawai kebangsaan yang kembali diadakan pertama kali ini mengangkat tema โ€œDengan Semangat Juang Panglima Besar Jenderal Soedirman, Kita Jadikan Momentum Hari Kemerdekaan Republik Indonesia untuk Mewujudkan Purbalingga Hebat, Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat.โ€ Purbalingga yang dikenal dengan bumi kelahiran Jenderal Soedirman berusaha untuk selalu menghidupkan kegigihan sosok Jenderal Soedirman yang disalurkan dalam semangat diri para generasi muda. Semangat inilah yang ditampilkan dan difilosofikan dalam barisan pawai budaya oleh setiap peserta pawai.

SMP Negeri 1 Purbalingga merupakan salah satu sekolah yang juga turut berpartisipasi dalam pawai kebangsaan tersebut. Peserta pawai Spenzaga terdiri dari para siswa yang didampingi oleh Bapak/Ibu Guru. Keseluruhan peserta pawai berjumlah 50 (lima puluh) orang yang dibagi ke dalam beberapa barisan yaitu pakaian adat nusantara sejumlah 18 (delapan belas) siswa atau sembilan pasang, prajurit 10 (sepuluh) siswa, pembawa banner identitas 3 (tiga) siswa, penari Banyumasan 5 (lima) siswa, pembawa kain merah putih 4 (empat) siswa, dan Bapak/Ibu Guru pendamping sejumlah 6 (enam) orang.

Pada pawai kebangsaan ini, SMP Negeri 1 Purbalingga menampilkan beberapa segmen dengan penampilan utama Jenderal Soedirman yang ditandu oleh para prajurit, diiringi oleh para penari dan siswa-siswa yang mengenakan beberapa pakaian adat nusantara. Penampilan ini merupakan gambaran Perjuangan Jenderal Soedirman dalam mendorong semangat kebangsaan dan komitmen generasi muda untuk menjaga dan menerapkan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Setiap barisan memiliki filosofi tersendiri yaitu:

  • Tandu Jenderal Soedirman yang menjadi poros utama keseluruhan penampilan adalah cerminan semangat juang dan sebagai simbol bahwa nyala semangat akan selalu berkobar tiada henti.
  • Pengusung tandu adalah cerminan generasi muda dengan semangat gotong royong dalam mencapai sebuah cita-cita mulia.
  • Petala para penari menampilkan hasil home-industry Purbalingga yang diwakili oleh cemara atau rambut palsu panjang sebagai simbol bahwa salah satu sumber rezeki masyarakat Purbalingga akan panjang tiada putus seperti cemara yang menjuntai.
  • Rumpun Bhineka Tunggal Ika sebagai ciri khas Indonesia yang berbeda tetapi tetap satu di bawah naungan Garuda Pancasila dengan menampilkan siswa siswi yang mengenakan pakaian adat dari beberapa daerah di Indonesia yaitu Yogyakarta, Bali, Lampung, Kalimantan. Minang, Tionghoa, Sulawesi, dan Naggroe Aceh Darusalam secara simbolis mengandung makna semangat nasionalisme yang berkebhinekaan sekaligus sebagai cerminan SMP Negeri 1 Purbalingga sebagai sekolah multikultural.
  • Kain merah putih yang terbentang melambangkan semangat persatuan dalam dekapan merah putih yang akan selalu berkibar dari Sabang sampai Merauke untuk pulih lebih cepat, bangkit lebih kuat!

Teknis pelaksanaan pawai dimulai pada pukul 08.00 yang bertitik kumpul di GOR Goentoer Darjono. Rute pawai melewati Jalan Kominot ke arah barat menuju pasar Taman Usman Janatin. Panggung kehormatan pawai ini ada di alun alun, sebelah selatan SMP Negeri 1 Purbalingga. Rombongan pawai Spenzaga menampilkan beberapa koreografi yang sudah dilatih dalam hitungan hari. Koreografi yang dilakukan oleh rombongan Spenzaga juga berbeda antar barisan agar tidak terasa monoton. Tidak ada display di depan panggung kehormatan untuk penyesuaian teknis agar waktu dapat digunakan dengan efisien. Sebagai ganti ditiadakannya display, hanya ada narasi yang dibacakan sepanjang perjalanan rute pawai untuk menyampaikan kepada penonton makna dari pawai yang dibawakan oleh rombongan Spenzaga.

            Dari adanya pawai ini diharapkan para penonton dapat mengambil sebuah pelajaran dan menerapkan nilai-nilai luhur dari sosok Jenderal Soedirman dalam kehidupan sehari-hari. Nilai luhur yang dapat diterapkan salah satunya berupa komitmen untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia dengan semangat nasionalisme. Sosok Jenderal Soedirman yang dikenal gigih juga seharusnya dapat menjadi panutan bagi generasi muda untuk meraih sesuatu,  tidak mudah menyerah untuk terus menjaga semangat yang terkadang hampir pudar karena berbagai hal. Pawai ini juga dapat mengasah kreativitas para generasi muda agar terus berkarya untuk Purbalingga sekaligus sebagai branding bahwa Purbalingga betul-betul sudah siap untuk pulih lebih cepat, bangkit lebih kuat di antara berbagai tantangan global yang menghadang. Sebagai generasi muda, kita harus tetap bisa nguri-uri budaya Banyumasan yang dapat diterapkan dengan segala cara salah satunya dengan menampilkan berbagai macam kreativitas dalam pawai kebangsaan.